Editor's Video

Istinja



Ahmad Sarwatin
A. Pengertian
Secara bahasa kata istinja’ ( اسنتجاء ) yang berasal dari bahasa Arab ini bermakna:menghilangkan kotoran. Sedangkan secara istilah ilmu fiqih kata istinja’ ini punya beberapa makna antara lain:
  • menghilangkan najis dengan air.
  • menguranginya dengan semacam batu.
  • penggunaan air atau batu.
  • menghilangkan najis yang keluar dari qubul (kemaluan) dan dubur (pantat).
Selain istilah istinja’ ada dua istilah lain yang mirip dan terkait erat yaitu istijmar ( استجمار ) dan istibra’ (استبراء ) Istijmar adalah menghilangkan sisa buang air dengan menggunakan batu atau benda-benda yang semisalnya.
Sedangkan istibra’ bermakna menghabiskan sisa kotoran atau air kencing hingga yakin sudah benar-benar keluar semua.
B. Hukum Istinja’
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum istinja’ menjadi dua hukum.
1. Wajib
Mereka berpendapat bahwa istinja’ itu hukumnya wajib ketika ada sebabnya. Dan sebabnya adalah adanya sesuatu yang keluar dari tubuh lewat dua lubang (anus atau kemaluan).
Pendapat ini didukung oleh Al Malikiyah Asy-Syafi’iyah dan Al Hanabilah. Sedangkan dalil yang mereka gunakan adalah hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berikut ini:
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anh berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bila kamu pergi ke tempat buang air maka bawalah tiga batu untuk membersihkan. Dan cukuplah batu itu untuk membersihkan.(HR. Ahmad Nasai Abu Daud Ad Daaruquthuni)[1]
Hadits ini bentuknya amr atau perintah dan konsekuensinya adalah kewajiban.
Dari Abdirrahman bin Yazid Radhiyallahu ‘Anh berkata bahwa telah dikatakan kepada Salman”Nabimu telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu”. Salman berkata”Benar beliau telah melarang kita untuk menghadap kiblat ketika berak atau kencing. Juga melarang istinja’ dengan tangan kanan dan istinja dengan batu yang jumlahnya kurang dari tiba buah. Dan beristinja’ dengan tahi atau tulang. (HR. Muslim Abu Daud dan Tirmizy)
2. Sunnah
Pendapat ini didukung oleh Al Hanafiyah dan sebagian riwayat dari Al Malikiyah. Maksudnya adalah beristinja’ dengan menggunakan air itu hukumnya bukan wajib tetapi sunnah. Yang penting najis bekas buang air itu sudah bisa dihilangkan meskipun dengan batu atau dengan ber-istijmar.
Dasar yang digunakan Al Imam Abu Hanifah dalam masalah kesunnahan istinja’ ini adalah hadits berikut:
Siapa yang beristijmar maka ganjilkanlah bilangannya. Siapa yang melakukannya maka telah berbuat ihsan. Namun bila tidak maka tidak ada keberatan. (HR. Abu Daud).
Selain itu beliau berpendapat bahwa najis yang ada karena sisa buang air itu termasuk najis yang sedikit. Dan menurut mazhab beliau najis yang sedikit itu dimaafkan.
Di dalam kitab Sirajul Wahhab milik kalangan mazhab Al  Hanafiyah istinja’ itu ada 5 macam 4 diantaranya wajib dan 1 diantaranya sunnah. Yang 4 itu adalah istinja’ dari haidh nifas janabah dan bila najis keluar dari lubangnya dan melebihi besarnya lubang keluarnya. Sedangkan yang hukumnya sunnah adalah bila najis keluar dari lubangnya namun besarnya tidak melebihi besar lubang itu.
Mengomentari hal ini Ibnu Najim mengatakan bahwa yang empat itu bukan istinja’melainkan menghilangkan hadats sedangkan yang istinja’ itu hanyalah yang terakhir saja yaitu najis yang besarnya sebesar lubang keluarnya najis.
Dan itu hukumnya sunnah. Sehingga istinja’ dalam mazhab Al-Hanafiyah hukumnya sunnah.
C. Praktek Istinja’ dan adabnya
Mulai dengan mengambil air dengan tangan kiri dan mencuci kemaluan yaitu pada lubang tempat keluarnya air kencing. Atau seluruh kemaluan bila sehabis keluar mazi.
Kemudian mencuci dubur dan disirami dengan air dengan mengosok-gosoknya dengan tangan kiri. Sedangkan yang termasuk adab-adab istinja’ antara lain:
1. Tangan Kiri
Disunnahkan dalam beristinja’ menggunakan tangan kiri. Dengan istinja’ dengan tangan kanan hukumnya makruh. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam:
Dari Abi Qatadah Radhiyallahu ‘Anh berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda”Bila kamu kencing maka jangan menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan. Bila buang air besar jangan cebok dengan tangan kanan. Dan jangan minum dengan sekali nafas.” (HR. Muttafaq ‘alaihi).
2. Istitar
Maksudnya adalah memakai tabir atau penghalang agar tidak terlihat orang lain. Di zaman kita sekarang ini tentu bertabir atau berpenghalang ini sudah terpenuhi dengan masuk ke dalam kamar mandi yang tertutup pintunya.
Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam:
“Bila kamu buang air hendaklah beristitar (menutup tabir). Bila tidak ada tabir maka menghadaplah ke belakang.(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)
3. Tidak Membaca Nama Allah
Tidak membaca tulisan yang mengandung nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Juga nama yang diagungkan seperti nama para malaikat. Atau nama nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalilnya adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bila masuk ke tempat buang hajat beliau melepas cincinnya. Sebab di cincin itu terukir kata “Muhammad Rasulullah” yang mengandung lafdzul Jalalah atau nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala .
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anh berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bila masuk ke WC meletakkan cincinnya. (HR. Arba’ah)
Namun hadits ini dianggap ma’lul atau cacat oleh sebagian ulama.
4. Tidak Menghadap Kiblat.
Dalilnya adalah hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anh bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda”Bila kamu mendatangi tempat buang air janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya. “(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu”Janganlah menghadap kiblat saat kencing atau buang hajat tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat” (HR. Sab’ah)
Posisi kiblat di Madinah adalah menghadap ke Selatan sedangkan membelakangi kiblat berarti menghadap ke Utara. Sedangkan menghadap ke Barat dan Timur artinya tidak menghadap kiblat dan juga tidak membelakanginya.
Tempat buang air di masa lalu bukan berbentuk kamar mandi yang tertutup melainkan tempat terbuka yang sepi tidak dilalui orang-orang. Sedangkan bila tempatnya tertutup seperti kamar mandi di zaman kita sekarang ini tidak dilarang bila sampai menghadap kiblat atau membelakanginya. Dasarnya adalah hadits berikut ini.
Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anh berkata bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita menghadap kiblat saat kencing. Namun aku melihatnya setahun sebelum kematiannya menghadap kiblat. (HR.Tirmizy).
Kemungkinan saat itu beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam buang air di ruang yang tertutup yang khusus dibuat untuk buang air.
5. Istibra’
Istibra’ adalah menghabiskan sisa kotoran atau air kencing hingga yakin sudah benar-benar keluar semua.
6. Kaki Kiri dan Kanan
Disunnahkan untuk masuk ke tempat buang air dengan menggunakan kaki kiri. Sedangkan ketika keluar dengan menggunakan kaki kanan.
Serta disunnahkan ketika masuk membaca doa:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bila masuk ke tempat buang hajat beliau mengucap”Dengan nama Allah aku berlindung kepada-Mu dari syetan laki dan syetan perempuan. (HR. Sab’ah)
Ketika keluar disunnahkan untuk membaca lafaz:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مِنْ الْخَلَاءِ قَالَ غُفْرَانَكَ
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bila keluar dari tempat buang hajat berkata”ghufranak”. (HR. Khamsah)
7. Tidak Sambil Berbicara
Berbicara ketika buang air adalah hal yang dilarang atau dimakruhkan. Apalagi ngobrol dengan sesama orang yang sedang buang air. Dasar larangannya adalah hadits berikut ini:
 Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anh berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda”Bila dua orang diantara kamu buang air hendaklah saling membelakangi dan jangan berbicara. Karena sesunguhnya Allah murka akan hal itu.
D. Istijmar
Istijmar sebagaimana disebutkan di muka, artinya adalah beristinja’ bukan dengan air tapi dengan menggunakan batu atau benda lain selain air sering disebut dengan istijmar.
Ada tiga buah batu yang berbeda yang digunakan untuk membersihkan bekas-bekas yang menempel saat buang air. Dasarnya adalah hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam:
Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘Anh bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, Siapa yang berwudhu’ hendaklah dia beristintsar. Dan siapa yang beristijmar (bersuci dengan batu) maka hendaklah berwitir (menggunakan batu sebanyak bilangan ganjil). (HR. Bukhari Muslim)
Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘Anh bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda ‘Siapa yang beristijmar (bersuci dengan batu) maka hendaklah berwitir (menggunakan batu sebanyak bilangan ganjil). Siapa yang melaksanakannya maka dia telah berbuat ihsan dan siapa yang tidak melakukannya tidak ada masalah’. (HR. Abu Daud Ibju Majah Ahmad Baihaqi dan Ibnu Hibban).
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anh bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda ‘Bila seorang kamu datang ke WC maka bawalah tiga buah batu karena itu sudah cukup untuk menggantikannya’. (HR. Abu Daud Baihaqi dan Syafi’i)
Tentang ketentuan apakah memang mutlak harus tiga batu atau tidak para ulama sedikit berbeda pendapat.
Pertama mazhab Al Hanafiyah dan Al Malikiyah mengatakan bahwa jumlah tiga batu itu bukan kewajiban tetapi hanya mustahab (sunnah). Dan bila tidak sampai tiga kali sudah bersih maka sudah cukup.
Sedangkan mazhab Asy-Syafi’iyyah dan Al Hanabilah mengatakan tetap diwajibkan untuk menggunakan batu tiga kali dan harus suci dan bersih. Bila tiga kali masih belum bersih maka harus diteruskan menjadi empat lima dan seterusnya.
Sedangkan selain batu yang bisa digunakan adalah semua benda yang memang memenuhi ketentuan dan tidak keluar dari batas yang disebutkan:
  1. Benda itu bisa untuk membersihkan bekas najis. Benda itu tidak kasar seperti batu bata dan juga tidak licin seperti batu akik karena tujuannya agar bisa menghilangkan najis.
  2. Benda itu bukan sesuatu yang bernilai atau terhormat seperti emas perak atau permata. Juga termasuk tidak boleh menggunakan sutera atau bahan pakaian tertentu karena tindakan itu merupakan pemborosan.
  3. Benda itu bukan sesuatu yang bisa mengotori seperti arang, abu, debu atau pasir.
  4. Benda itu tidak melukai manusia seperti potongan kaca, beling, kawat, logam yang tajam atau paku.
  5. Jumhur ulama mensyaratkan harus benda yang padat bukan benda cair. Namun ulama Al Hanafiyah membolehkan dengan benda cair lainnya selain air seperti air mawar atau cuka.
  6. Benda itu harus suci sehingga beristijmar dengan menggunakan tahi atau kotoran binatang tidak diperkenankan. Tidak boleh juga menggunakan tulang, makanan, atau roti, karena merupakan penghinaan.
Bila mengacu kepada ketentuan para ulama maka kertas tissue termasuk yang bisa digunakan untuk istijmar. Namun para ulama mengatakan bahwa sebaiknya selain batu atau benda yang memenuhi kriteria gunakan juga air. Agar istinja’ itu menjadi sempurna dan bersih.


[1] Ad-Daruruquthuni mengatakan isnadnya shahih

Related News

Tidak ada komentar:

Leave a Reply

Tolong Komentarnya ya....